Bookmark and Share

MEMORY DI HATI ARNY

Posted: Monday, January 5th, 2009 at 5:57 amUpdated: Friday, January 30th, 2009 at 10:07 pm

Kembali mereka terdiam menikmati sisa lagu Sihlouette-nya Kenny G. Hujan gerimis sudah mulai berhenti walau terkadang geledek masih menggelegar.

“Jadi gimana Arn?” tanya Tito.

“Apanya yang gimana?”

“Itu, gue tadi kan bilang kalau gue suka ama elo. Terus gue minta komentar elo,”

“Ya `nggak tau ah. Emangnya gue harus komentar apa dong?”

“Apa kek perasaan elo mungkin,”

“Gue `nggak tau harus `ngomong apa To,”

“Bilang,”gue suka loe juga,” juga nggak ‘pa ‘pa,”

Singkatnya sejak saat itu, Arny resmi jadi pacar Tito. Pacar yang pada awalnya hanya ada rasa saling suka nggak lebih. Arny yakin bahwa dari suka bisa jadi sayang, hal yang paling penting dalam hubungan kekasih. Arny belum pernah merasa sayang ama cowok sebelumnya. Kini rasa sayang itu telah tumbuh. Arny sangat mengagungkan rasa itu. Ia yakin bahwa dengan sayang, `nggak akan ada yang bisa memisahkan Tito dari dirinya.

“Glegar…” sekali lagi halilintar menggelegar.

Betapa cepat waktu dua setengah tahun berlalu, sementara hari ini begitu lama. Dua setengah tahun dapat kulewati dengan baik bersama Tito. Tapi sekarang …. Sekali lagi Arny termenung. Teringat kepada petuah Papa beberapa bulan lalu.

“Manusia itu lambat, Nis. Contoh yang paling gampang atlet. Mereka pada umumnya latihan dari kecil. Mungkin dari umur lima tahun. Terus latihan bertahun-tahun hanya untuk beberapa jam pertandingan terkadang cuma untuk beberapa menit. Kalau dia menang, sukses. Tapi kalau kalah, hancur deh kerja bertahun-tahun. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk selalu perfect,” kata Papa.

“Tapi kan Pa, masih ada kesempatan lain,”

“Nis, kesempatan kedua itu jarang adanya. Kalau ada, untung banget deh. Tapi jangan sampai gagal lagi di kesempatan kedua,”

Ada kabut dimata Arny ketika mengingat kata-kata papanya. Ia pikir inikah yang telah terjadi pada dirinya. Hasil kerja dari hubungan selama dua setengah tahun gagal dalam satu pertandingan. Perpisahan selama tiga minggu.

“It’s not fair,” batin Arny. “Masa dua setengah tahun hancur dalam tiga minggu,”

“Gila!”

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.