Bookmark and Share

MEMORY DI HATI ARNY

Posted: Monday, January 5th, 2009 at 5:57 amUpdated: Friday, January 30th, 2009 at 10:07 pm

“Glegar … ” kembali halilintar menggelegar. Tersadar dari lamunannya, Arny melihat jam. Sudah hampir pukul empat pagi. Sejenak Arny bimbang. Kalau tidur, bisa ilang Subuh. Tapi kalo nggak, bisa ngantuk disekolah. Akhirnya Arny memutuskan untuk sholat Tahajud sambil menunggu Subuh. Berdo`a mudah mudahan Tuhan memberi kekuatan kepadanya.

Arny kesiangan bangun. Ia hanya sempat tidur lagi selama setengah jam. Didengarnya suara Mama memanggilnya untuk sarapan. Cepat Arny bangun, menyambar handuk, dan bergegas menuju kamar mandi. “Sebentar, Ma. Anis cuci muka dulu,”

Habis cuci muka, Arny bergegas menuju meja makan. Huah, segar rasanya sehabis cuci muka dan gosok gigi. Arny mengambil sepotong roti selai dan mengunyahnya pelan-pelan. Sambil mengunyah roti, ia teringat akan kejadian waktu kelas satu SMA. Ceritanya Arny lagi naksir nih. Namanya Andre. Mereka duduk sebangku waktu itu. Pasalnya karena mereka sama-sama jadi bendahara kelas. Banyak yang perlu didiskusiin. Awalnya sih cuman satu-dua mata pelajaran aja pindahnya. Lama-lama keterusan deh. Juga pada awalnya Arny `nggak naksir ama Andre. Tapi karena keakraban mereka, lama-lama Arny jadi suka. Mereka sekalu berdua. Jam istirahat dipakai untuk `ngobrol aja di bangku kelas, atau nulis-nulis puisi-puisi di meja. Mereka bahkan punya nama khusus untuk meja yang mereka jadiin media nulis. Koran Meja. Pokoknya bagi Arny, Andre was everything. Arny juga yakin bahwa dirinya means a lot to Andre. Pernah waktu jam pelajaran Sejarah, Andre dipindahin duduknya ama Bu Atik. Tersiksa banget rasanya. Arny `nggak bisa konsentrasi. Sejak itulah Arny sadar bahwa dirinya butuh Andre. Dan Arny yakin Andre had the same feelings.

Aku cinta sama Andre nggak sih? Dilema itu muncul diawal tahun baru tidak lama setelah tragedi jam pelajaran Sejarah. Semakin dipikir, Arny semakin yakin bahwa dia suka sama Andre. Hari-hari di sekolah yang selalu mereka isi berdua menyebabkan rasa butuh akan kehadiran Andre disisinya.

“Arn, elo lagi suka ama seseorang ya?” tanya Kata, teman dekat Arny.

“Tau-tauan lo, Kat,”

“Ia dong. Ketara banget kok,”

“Masa?”

“Anak kelas ini kan?”

“Hmmm …. Masa ketara banget sih?”

“Semua orang juga tau, Arn,”

“Ok deh. Ada kok,”

“Dia ya?” tanya Kata sambil nunjuk Andre.

Gila juga si Kata. Nggak tau apa kalo orangnya denger. Arny yakin kalo Andre denger pembicaraannya dengan Kata, soalnya Andre duduk nggak jauh dari tempat percakapan itu terjadi. Ia nggak mau ngaku depan Andre walaupun Arny yakin Andre tahu perasaannya. Paling tidak ia rasa belum siap untuk ngomong suka didepan Andre.

“Bukan,” singkat Arny menjawab.

Setelah kejadian itu, Andre sikapnya lain. Arny tebak pasti karena Andre denger percakapannya dengan Kata barusan. Arny coba bersikap biasa aja, tapi Andre kayaknya pengen ngejauh aja. Semua usaha Arny untuk mencairkan suasana gagal. Arny nggak tahu harus bikin apa. Dia butuh Andre. Satu jam pelajaran aja nggak ada Andre ….

Beberapa hari berlalu. Sikap Andre masih sama aja. Akhirnya Arny mutusin untuk bikin puisi aja. Ia sudah siap sekarang. Andre kan suka bikin puisi juga bersama. Isinya kayak gini:

You know that I love you,
But don`t use it as your gun.
You know that I need you,
But don’t use it as your knife,
A knife to hurt me …

Spontan Andre berubah sikap. Arny jadi tambah yakin akan perasaan Andre kepadanya. Masing-masing sadar bahwa ada rasa suka diantara mereka. Sampai saat terakhir mereka berdua, Andre nggak pernah menyatakan cintanya. Andre pindah sekolah waktu naik-naikan kelas dua. Walaupun tak pernah terucap, walaupun Arny sadar ada cinta, tapi ia penasaran. Ia ingin mendengar langsung dari Andre.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.