Bookmark and Share

MEMORY DI HATI ARNY

Posted: Monday, January 5th, 2009 at 5:57 amUpdated: Friday, January 30th, 2009 at 10:07 pm

Waktu-waktu yang dilewatinya bersama Tito mengubur rasa penasaran Arny. Sekarang mereka putus, Arny ingat lagi rasa penasarannya gara-gara sering ngelamun. Bukannya Arny mau pacaran sama Andre. Kalau iya, pasti sekarang dasarnya cuman pelampiasan alias rebound. Arny cuman penasaran aja. Nothing’s more.

“Ni ! ”

Arny kaget. Buyar lamunannya.

“Ya, Ma,”

“Kok pagi-pagi ngelamun? Ada masalah ya?”

“Ah nggak kok Ma,”

“Ini pagi yang kedua kamu melamun lho Ni,”

“Nggak kok. Cuman ada mid-term aja. Nervous nih!” dalih Arny menyembunyikan masalahnya.

“Ya sudah. Cepat selesaikan rotimu! Nanti terlambat lagi,”

“Ya, Ma,”

Berapa bulan berlalu. Arny masih nggak bisa melupakan perasaannya kepada Tito. Ia sayang banget dengan Tito. Kebenaran filosofi Papanya lah yang sangat menyakitkan. Effeknya, Arny jadi benci dengan yang namanya ‘Halo’. Menurut Arny, semua relationship pasti akan berakhir. Entah seperti yang beberapa bulan lalu dialaminya, atau salah satu meninggal dunia. Arny sadar sejak perpisahannya dengan Tito dulu bahwa dia sangat sebel dengan perpisahan. Dan sejak saat itu pula dia menutup dirinya. Tidak mau bergaul dekat dengan cowok lain.

“Wake-Up Arn! It’s time for you to get over it,” ujar Helen, sahabat Arny di kuliah.

“Nggak bisa Hel. Udah deh. Lupain aja! Biarin aja gue kayak gini,”

“Nggak bisa! Masa seumur hidup elo nggak mau kenalan ama orang lain? Arn, jangan elo bikin masalah ini a big deal ok! Gue yakin somewhere, Tito pasti lagi ngakak ngetawain kebegoan elo dan kesuksesan dia in ruining your life kalo dia tau elo miserable kayak gini,”

“Abis gimana? Emang kenyataan kok,”

“Aduh Arn,”

“Udah deh Hel, saat ini nggak ada yang bisa ngerubah pendapat gue,”

“Tapi Arn …,”

“E e eh …,” Arny memotong percakapan karena dosen telah memulai kuliahnya.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.