Bookmark and Share

MEMORY DI HATI ARNY

Posted: Monday, January 5th, 2009 at 5:57 amUpdated: Friday, January 30th, 2009 at 10:07 pm

“Ni, ada telpon tuh,” panggil Mama.

“Siapa Ma?”

“Tito,”

Belakangan ini Tito jadi sering nelpon lagi. Arny pikir mungkin Tito nggak mau mereka musuhan. Toh putusnya baik-baik. Sedikit ada rasa bahagia dihati Arny. Ia memang rindu Tito. Rindu masa-masa mereka berdua.

“Halo Arn, entar malem makan diluar yok,” ajak Tito

“Ya, nggak bisa To,”

“Nggak bisa atau nggak mau?”

“Nggak bisa,”

“Come on An! For old times` sake,”

“Ok deh. Jam berapa jemput?”

“Setengah delapan,”

* * *

“Apa? Elo date lagi ama Tito?” tanya Helen setengah berteriak waktu Arny cerita bahwa dia jalan lagi ama Tito.

“Nggak. Bukan date kok. Jalan bareng,”

“Apa bedanya Arn?” Helen mendesah. “Arn, elo masih inget kan perlakuan Tito diakhir hubungan kalian?”

“Masih. Tapi emangnya gue nggak boleh temenan ama dia? Emangnya gue harus musuhan gitu? Itu sih nggak dewasa Hel. Gayanya anak ABG,”

“Terserah deh. Tapi gue rasa elo masih ngarepin dia kan?” tebak Helen.

Arny diem, mencoba untuk mentelaah perasaannya.

“Iya kan?” semprot Helen lagi.

“Nggak tau ah Hel,”

“Aduh Arn, gimana elo nggak benci ama dia sih? Gue aja muak banget. Nggak tau deh apa yang bakal gue buat kalo ketemu tu cowok. Jangan-jangan tangan gue bisa maen. Arn, once a dog, always a dog,”

“Tito bukan dog atau playboy ngerti!” Kali ini Arny yang setengah berteriak. Walaupun ia sudah tak ada apa-apa lagi dengan Tito, tak urung panas juga kupingnya.

“Kalo gitu elo sebut apa dong perbuatannya?”

Arny maklum akan watak sahabatnya, Helen yang ngambil sastra Inggris. Helen yang keras, berani, dan kalau ngomong nggak peduli perasaan lawan bicaranya. Apa yang ada dibenaknya, itulah yang keluar.

“Gue masih suka, Hel,” bisik Arny yang segera menutup kupingnya.

“Apa?” teriak Helen.”Ok. That does it! Apa yang elo harapkan dari tu cowo` sih Arn?”

“Elo nggak pernah pacaran sih Hel. Nggak mungkin elo bisa ngerti perasaan gue,”

“Jadi mau elo apa Arn? Elo mau jadi lagi ama dia?”

“Gue nggak tau lagi apa yang gue mau,”

“Terserah deh Arn. Tapi gue ingetin jangan sampe jatuh di lubang yang sama,”

“Ma kasih Hel,”

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.